Drpm.umsida.ac.id – KKNP 36 Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) menghadirkan inovasi pudding alpukat sebagai bagian dari program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) untuk Pencegahan Stunting. Kegiatan ini berlangsung pada Selasa (11/02/2025) di Desa Gajahrejo, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan.
Program ini tidak hanya berupa sosialisasi mengenai bahaya stunting dan dampaknya terhadap pertumbuhan anak, tetapi juga pelatihan pembuatan pudding alpukat sebagai alternatif makanan bergizi bagi balita yang terdampak stunting.
Tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya asupan gizi yang cukup serta memberikan solusi makanan sehat yang mudah diolah.
Pudding Alpukat sebagai Solusi Pencegahan Stunting
Jihan Triana, selaku Ketua Divisi Kesehatan Lingkungan dan Stunting KKN-P 36 Umsida, menjelaskan bahwa pemilihan alpukat sebagai bahan utama dalam inovasi PMT ini didasarkan pada kandungan gizinya yang tinggi.
“Kami ingin memberikan solusi makanan tambahan yang berasal dari hasil pangan lokal, seperti alpukat, yang kaya akan vitamin C, vitamin K, folat, kalium, zat besi, vitamin E, dan vitamin B6. Semua nutrisi ini sangat baik untuk pertumbuhan otak balita dan menunjang kondisi fisik mereka,” ujarnya.
Dalam kegiatan sosialisasi, mahasiswa KKN-P juga menjelaskan bahaya stunting dan faktor-faktor penyebabnya.
Mereka menekankan pentingnya pola makan sehat dan asupan gizi seimbang sejak 1.000 hari pertama kehidupan anak agar terhindar dari risiko pertumbuhan yang terhambat.
Pudding alpukat menjadi salah satu pilihan PMT yang tidak hanya kaya nutrisi, tetapi juga memiliki tekstur lembut dan rasa yang disukai anak-anak.
Pembuatan pudding alpukat ini cukup sederhana, dengan bahan utama alpukat segar, susu, gula, dan agar-agar.
Dengan proses pembuatan yang praktis dan bahan yang mudah ditemukan, diharapkan masyarakat dapat mengadopsi resep ini untuk diberikan kepada anak-anak mereka secara rutin.
Dukungan Masyarakat dan Pemerintah Desa

Koordinator Stunting Desa Gajahrejo, Siti Kholifah, turut hadir dalam kegiatan ini dan memberikan apresiasi terhadap inovasi yang dilakukan oleh mahasiswa KKNP 36 Umsida.
Ia menilai bahwa program ini sangat membantu dalam upaya desa dalam menekan angka stunting.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat, apalagi stunting masih menjadi tantangan utama di desa kami. Dengan adanya inovasi pudding alpukat ini, masyarakat jadi lebih sadar bahwa makanan sehat dan bergizi bisa diolah dari bahan yang mudah didapat di sekitar kita,” jelasnya.
Menurut Siti, selama ini pemberian makanan tambahan bagi balita lebih sering dalam bentuk makanan mentah atau bubur.
Dengan adanya pudding alpukat, balita dapat menikmati makanan bergizi dalam bentuk yang lebih menarik dan mudah dikonsumsi.
Ia juga berharap agar edukasi gizi semacam ini dapat dilakukan secara berkelanjutan, sehingga masyarakat semakin memahami pentingnya pola makan sehat dalam mencegah stunting.
“Kami dari pihak kesehatan desa siap mendukung program seperti ini di masa depan. Semoga makin banyak orang tua yang sadar akan pentingnya gizi dalam masa pertumbuhan anak,” tutupnya.
Dampak Positif dan Harapan ke Depan
Inovasi pudding alpukat yang diperkenalkan oleh mahasiswa KKN-P 36 Umsida di desa Gajahrejo mendapat respons positif dari masyarakat.
Selain meningkatkan pemahaman tentang pentingnya gizi seimbang, program ini juga mendorong pemanfaatan potensi pangan lokal secara lebih kreatif.
Masyarakat yang awalnya kurang memahami cara memberikan gizi seimbang kepada balita, kini lebih sadar bahwa asupan nutrisi yang tepat sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, dan daya tahan tubuh anak.
Dengan tekstur lembut dan rasa manis alami, pudding alpukat juga lebih mudah diterima oleh anak-anak, sehingga orang tua tidak kesulitan dalam memberikan makanan bergizi kepada mereka.
Penulis : Mohammad Alfarizhy Zakyzein