
Pusat Studi Pendidikan dan Budaya UMSIDA berpartisipasi dalam Rakernas LSB PP Muhammadiyah 2026 untuk memperkuat jejaring pendidikan, penelitian, pelestarian, dan pengembangan seni budaya yang berkelanjutan.
Sidoarjo – Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) melalui Pusat Studi Pendidikan dan Budaya turut berpartisipasi dalam Rapat Kerja Nasional Lembaga Seni Budaya Pimpinan Pusat Muhammadiyah atau Rakernas LSB PP Muhammadiyah Tahun 2026 yang diselenggarakan di Jakarta pada 10–12 Juli 2026.
UMSIDA dalam kegiatan tersebut diwakili oleh Evie Destiana, S.Sn., M.Pd., sebagai bagian dari delegasi Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) yang hadir untuk membahas penguatan ekosistem seni dan budaya di lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah.
Rakernas mengusung tema “Membumikan Dakwah Berkemajuan: Mengembangkan Ekosistem Seni dan Budaya yang Kreatif dan Inklusif.” Pembukaan kegiatan dilaksanakan di Teater Besar Taman Ismail Marzuki, Jakarta, sedangkan rangkaian rapat, sidang pleno, dan pembahasan program kerja berlangsung di Gedung Dakwah Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Jalan Menteng Raya Nomor 62, Jakarta Pusat.
Kegiatan tersebut menjadi forum strategis untuk mempertemukan pengurus LSB Muhammadiyah dari berbagai wilayah, perwakilan PTMA, seniman, budayawan, akademisi, serta pemangku kepentingan lainnya. Para peserta membahas arah kebijakan, strategi kelembagaan, dan berbagai program yang dapat memperkuat peran seni budaya sebagai bagian dari dakwah Islam berkemajuan.
Pembukaan Rakernas berlangsung dalam suasana yang semarak di gedung teater besar Taman Ismail Marzuki, dengan menghadirkan beragam pertunjukan budaya. Rangkaian pembukaan diisi dengan Tari Genjreng Party yang memadukan unsur budaya Betawi, Bali, dan Sunda, pertunjukan musik, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, serta Tari Saman yang dibawakan oleh siswa SMA Muhammadiyah 3 Jakarta. Penyajian tersebut menunjukkan bahwa keberagaman seni Nusantara dapat menjadi media untuk memperkuat kebersamaan dan menyampaikan nilai-nilai dakwah secara kreatif. Keistimewahan dalam pembukaan Rakernas tahun ini adalah Pagelaran Lenong “Lela Oh Lela” dengan bintang tamu Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed yang berperan sebagai babe.
Salah satu pembahasan penting dalam Rakernas adalah perlunya pembinaan seni yang dilakukan secara terencana dan berkelanjutan. Pengembangan seni tradisi, seni modern, dan seni kontemporer dinilai harus berjalan secara beriringan agar mampu melahirkan sumber daya manusia yang kompeten, kreatif, dan memiliki kepekaan terhadap nilai-nilai kebudayaan.
Pembinaan seni juga tidak seharusnya berhenti pada kegiatan yang bersifat insidental atau hanya diselenggarakan untuk memenuhi kebutuhan acara tertentu. Seni dan budaya perlu dikembangkan melalui ekosistem yang melibatkan pendidikan, penelitian, penciptaan karya, penguatan komunitas, dokumentasi, publikasi, serta kerja sama lintas lembaga.
Berbagai wilayah turut mempresentasikan program unggulan yang telah dan akan dilaksanakan, seperti festival budaya, pelatihan bagi seniman muda, penguatan komunitas seni, pendokumentasian budaya lokal, serta kolaborasi dengan pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan komunitas kreatif. Pertukaran pengalaman tersebut menjadi dasar untuk memperkuat jejaring dan merumuskan program seni budaya Muhammadiyah yang lebih kontekstual sesuai dengan karakteristik setiap daerah.
Perguruan Tinggi sebagai Penggerak Ekosistem Budaya
Kehadiran delegasi PTMA menjadi salah satu kekuatan penting dalam Rakernas. Sebanyak 14 PTMA tercatat mengikuti kegiatan tersebut, termasuk Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Perguruan tinggi dipandang memiliki posisi strategis karena menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan sumber daya manusia, penelitian, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat.
Kampus tidak hanya menjadi tempat mempelajari seni dan budaya secara teoritis, tetapi juga dapat berfungsi sebagai ruang penciptaan, eksperimen, dokumentasi, regenerasi, serta pertemuan antara seniman, akademisi, mahasiswa, sekolah, pemerintah, dan masyarakat. Melalui peran tersebut, PTMA diharapkan mampu melahirkan seniman, budayawan, pendidik, peneliti, dan kader Muhammadiyah yang menjadikan seni sebagai media dakwah yang inklusif dan mencerahkan.

Mewakili UMSIDA, Evie Destiana menyampaikan bahwa keikutsertaan dalam Rakernas menjadi momentum penting untuk memperkuat posisi perguruan tinggi dalam pembangunan kebudayaan.
“UMSIDA berkomitmen untuk menjadi laboratorium pengembangan dan pelestarian seni budaya di Jawa Timur. Kampus harus menjadi ruang hidup tempat pendidikan, penelitian, penciptaan karya, pendokumentasian, dan pemberdayaan komunitas seni budaya dapat berjalan secara terpadu dan berkelanjutan,” ungkapnya.
Komitmen tersebut akan diarahkan pada penguatan kegiatan penelitian dan pemetaan budaya lokal, dokumentasi seni tradisi, pelatihan generasi muda, pendampingan komunitas, pengembangan bahan ajar berbasis budaya, penyelenggaraan festival dan ruang apresiasi, serta kolaborasi dengan sekolah, pemerintah daerah, organisasi Muhammadiyah, seniman, dan komunitas kreatif di Jawa Timur.
Menurut Evie, konsep kampus sebagai laboratorium seni budaya tidak hanya berkaitan dengan penyediaan tempat atau fasilitas fisik. Laboratorium budaya harus dimaknai sebagai ruang yang mempertemukan pengetahuan akademik dengan pengalaman hidup masyarakat.
“Tradisi perlu dipelajari, didokumentasikan, diwariskan, sekaligus diberikan ruang untuk berkembang sesuai dengan tantangan zaman. Dengan demikian, pelestarian budaya tidak berhenti pada upaya menjaga bentuk lama, tetapi juga mendorong lahirnya kreativitas, regenerasi, dan kebermanfaatan sosial,” jelasnya.
Rakernas LSB PP Muhammadiyah 2026 juga menegaskan bahwa pengembangan seni budaya memerlukan sinergi antara pimpinan Persyarikatan, lembaga seni budaya, perguruan tinggi, sekolah, pemerintah, seniman, dan masyarakat. Sinergi tersebut diperlukan agar program seni budaya tidak berjalan secara terpisah, tetapi menjadi sebuah gerakan yang terencana, inklusif, dan memberikan dampak nyata. Melalui partisipasi dalam Rakernas ini, Pusat Studi Pendidikan dan Budaya UMSIDA diharapkan dapat memperluas jejaring kerja sama nasional sekaligus menerjemahkan hasil-hasil pertemuan menjadi program nyata di Jawa Timur. Kehadiran UMSIDA menjadi bagian dari upaya bersama untuk menempatkan seni dan budaya sebagai sarana pendidikan, dakwah kultural, penguatan identitas, pemberdayaan masyarakat, dan pencerahan peradaban.
Penulis: Evie Destiana, S.Sn., M.Pd.